Karina Mecca & Keshia Deisra, Founders of Dulcet Pattiserie

Woman's Career

Processed with VSCOcam with hb2 preset

Berawal dari hobi membuat kue, kakak dan adik bernama Keshia dan Karina berhasil membangun online cakeshop dengan menu unik dan khas yaitu Dulcet Patisserie. Kalau kamu sering buka Instagram, mungkin udah familiar dengan Dulcet Patisserie ini, karena mereka sudah memiliki lebih dari lima puluh tujuh ribu followers. Screening through their Instagram feed will make your tummy want those delicious sweets!

 

Awal dari business mereka nggak lancar-lancar aja loh, justru mereka sempat merasakan ditolak oleh beberapa kafe. Tapi, dari kegagalan tersebut, Keshia & Karina berhasil mengatur business strategy & marketing hingga akhirnya mereka sukses. The It Girl sangat beruntung bisa melakukan wawancara dengan founders cantik Dulcet Patisserie. Pengen tau cerita lengkapnya? Yuk, langsung aja scroll ke bawah.

 

Nama: Karina Mecca

Umur: 23 tahun

Pendidikan: S1 Arsitektur

Pekerjaan: Entrepreneur dan freelance photographer

 

Nama: Keshia Deisra

Umur: 21 tahun

Pendidikan: SMA

Pekerjaan: Entrepreneur, pastry chef, dan penulis

la Dulcet Pattiserie

Apa pekerjaan pertama setelah lulus kuliah?

Karina: semenjak awal kuliah, saya bersama Keshia sudah bersama-sama mendirikan bisnis Dulcet Patisserie. Jadi ketika lulus kuliah, saya bisa turun tangan langsung dan bekerja lebih fokus dalam menangani bisnis ini. Selain itu saya juga tengah meniti karir saya sebagai freelance photographer.

 

Kapan memulai ada pikiran untuk memulai bisnis sendiri?

Keshia: saya mendirikan bisnis Dulcet Patisserie selepas saya lulus SMA. Sebelumnya saya sudah memulai karir saya di bidang literatur, yaitu sebagai penulis semenjak saya SMP, dan telah menerbitkan buku tiga kali. Awalnya saya memang tidak berniat untuk langsung melanjutkan kuliah (karena saya mengikuti program akselerasi dua kali selama SMP dan SMA), dan akhirnya mencoba untuk berbisnis. Seiring berjalannya waktu, tanggung jawab saya dalam bisnis ini lebih besar sehingga untuk saat ini saya lebih memprioritaskan bisnis saya ketimbang kuliah.

 

Bagaimana sih proses untuk memulai bisnis kuliner? Apa saja yang harus dipersiapkan?

Awalnya saya (Keshia), bermodal dengan kemampuan otodidak (hingga saat ini saya belum pernah ikut kelas/sekolah baking manapun baik formal/informal) hanya mencoba membuat satu-dua resep kue yang sederhana untuk keluarga dan teman-teman dekat saja, kemudian mendapatkan respon yang sangat positif. Bermula dari situ saya mulai mencoba resep-resep dan teknik-teknik baru, sampai akhirnya menemukan “style” saya sendiri dalam bidang baking. Saya mulai menawarkan produk saya ke orang-orang terdekat, bahkan ke kafe-kafe yang pada akhirnya ditolak semua. Kemudian kakak saya (Karina) memberikan ide untuk memasarkannya melalui media sosial, dari situlah kami mantap untuk menjadikan Dulcet Patisserie sebagai online cakeshop.

1

Sebagai business partner sekaligus sisters, bagaimana kalian membagi tanggung jawab? Apa saja yang dapat dipelajari dari business partnership (khususnya dengan keluarga)? Apa yang ingin kalian ketahui sejak awal?

Sejujurnya kami memulai bisnis ini tanpa persiapan khusus, kami menyebut bisnis kami berkembang secara alami. Buat kami, bisnis itu yang penting “step by step” tetapi stabil, ketimbang melonjak (hype) kemudian turun dan menghilang. Apalagi hingga sekarang kami masih menyebut bisnis kami sebagai home industry. Yang paling utama dalam bisnis kuliner adalah menguasai produk yang kita jual. Produk yang dijual harus distinctive, sehingga bisa stand out di antara produk serupa.

 

Do you have any advice for other business partners out there?

Setiap bisnis pasti melewati fase up and down sebelum ketahanannya teruji dan akhirnya bisa stabil hingga naik. But as long as the business comes from your passion, and you do it with your passion, apapun rintangannya pasti tidak terlalu berat menjalaninya. Jaga kualitas produk, dan buat relationship yang kuat dengan customer.

La Dulcet Pattisserie

Banyak sekali kompetitor di dunia kuliner, bagaimana kalian menjaga Dulcet untuk tetap bertahan?

Kami punya dua prinsip mengenai kompetitor. Satu, kami percaya setiap orang sudah punya jatah rezekinya masing-masing. Dua, makanan itu soal selera, setiap makanan punya pasar seleranya masing-masing. Dan posisi kompetitor di mata kami hanyalah fakta bahwa mereka ada, sebatas itu. Kami lebih memilih untuk tidak membiarkan mereka mempengaruhi bisnis kami alih-alih fokus pada bisnis kami saja.

 

Apa saja sih kegiatan sehari-hari para founders Dulcet?

Keshia: Saya lebih banyak berada di dapur untuk mengawasi proses produksi dan di kantor untuk urusan administrasi. Sementara Karina rutin melakukan photoshoot produk dan mengurus database customer. Tetapi di sela-sela kegiatan rutin kami, kami melakukan kegiatan marketing berdua, baik dari dalam maupun luar kantor.

3

What’s the best moment of your career so far?

Wah, sejujurnya banyak sekali. Mulai dari ketika kami mulai sering masuk media (TV, koran, majalah, website) sampai diundang menjadi pembicara bisnis, melakukan kerjasama dan sponsorship dengan brand-brand ternama, dll. Tetapi yang paling berkesan bagi kami adalah karena kami melalui segalanya ini bersama-sama dengan para karyawan kami yang sudah bekerja di Dulcet sejak awal berdiri.

 

Adakah saran untuk para perempuan yang menjalani culinary business?

Know your product well, make it distinctive, and the market will come to you. Saya percaya pasar akan selalu terbuka, tinggal bagaimana kita menarik perhatian mereka, meyakinkan mereka untuk membeli, kemudian kita jaga kepercayaan mereka dengan menjaga kualitas produk. Selain itu seperti halnya wanita, bisnis makanan juga harus pandai bersolek. Entah itu dari sisi produk, packaging, atau cara marketing.

 

All images by: Dulcet Patisserie

Contributors

Winny Irmarooke

Co-Founder & Editor